​Hai, kamu. Wanita berpipi chubby, bersenyum manis penuh bahagia, berambut panjang sederhana. Ingat aku, tidak? Pria yang pernah dekat, pria yang pernah menaruh harapan bisa berbagi kisah indah bersamamu.

Sebulan yang lalu lebih tepatnya, tak sengaja aku mengenal kau, sebulan yang lalu tak sengaja aku menaruh harapan padamu, sebulan yang lalu tak sengaja aku mengidolakan matamu, senyummu, suaramu, ketawamu, segalamu, aku suka! Aku tak pernah mengerti kenapa awal yang manis selalu akan berujung pahit.

Semua hanya unsur ketidak sengajaan yang telah dirancang oleh Tuhan, mempertemukan dua nafas untuk saling mengenal. Sayangnya, Tuhan hanya punya rencana agar kita cukup mengenal saja, tidak lebih. Dan sayangnya pula, aku yang tidak menuruti rencana Tuhan, aku yang berharap bahwa kita bukan saling mengenal saja, aku berharap lebih. Namun kau? Kau ikut rencana Tuhan, hanya cukup mengenal, berteman, memberi harapan, lalu hilang.

Sekarang, aku ada di ujung rasa paling bisu, aku rindu ketika kau ucap “selamat pagi, sayang” pada pagiku yang dingin, pada hariku yang kelabu. Kau datang dengan hangat, layaknya selimut bulu domba. Kau buatku nyaman, kau buatku betah dalam harapanmu yang sebenarnya kosong. Sadarkah kau? Sepertinya tidak. Bagaimana bisa aku tak pernah menyadari bahwa kau begitu indah tuk ku kenang.

Aku masih tak mengerti mengapa Tuhan mempertemukan aku dan kau kalau hanya untuk membuatku terluka dan membuatmu risih. Aku tak mengerti mengapa Tuhan membiarkan hatimu beku sedang aku terlalu hangat. Aku tak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan hatiku untuk memiliki rasa pada hatimu yang semu.
Kini kau hilang, terbawa arus hujan mungkin. Kau adalah pencipta resahku semenjak sebulan yang lalu. Kau adalah pencipta resahku semenjak pertemuan itu. Namun, kau harus ingat. Ada hati yang kau biarkan patah ketika kau mengejar hati yang akan membuat hatimu patah. Terima kasih telah mengisi pagiku selama satu bulan utuh, terima kasih telah mengecup basah bibirku pada Rabu hujan lalu. Kau adalah laluku yang akan ku lupa pada akhirnya.
Kepada kau, R yang senantiasa selalu kupendam asa ini meski kini kau telah dengan yang lain.

Iklan