Bukan-bukan, ini bukan kisah percintaan saya tapi kisah percintaan seseorang. Sebut saja dia Herman (bukan nama sebenarnya).

Beberapa hari ini saya mendadak dijadikan tempat curhat seseorang. Sebut saja Herman seorang lelaki yang agak kekinian dan cukup ikuti tren yang sedang berkembang saat ini.

Herman perdana mengenal seorang wanita dari aplikasi chatting yang cukup dikenal. Awal obrolan membuat antara Herman dan sang wanita sama-sama saling nyaman, hingga tanpa sungkan Herman mulai merasakan getaran-getaran asmara dalam dirinya. Memang sih sudah cukup lama, Herman tidak menjalin asmara dengan lawan jenia.

Herman merasa sang wanita teman ngobrolnya ini merupakan sosok yang ideal untuk dijadikan pasangan. Keduanya sudah cukup terbuka mengenai masa lalu masing-masing. Dan Herman pun sudah legowo menerima masa lalu sang wanita tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Herman memiliki rasa ingin berjumpa dengan teman ngobrolnya ini. Tanpa sungkan, Herman mengirimkan obrolan singkat melalui aplikasi kesukaannya bermaksud ingin mengajak sang wanita kopi darat ditempat yang dirasa cukup nyaman dan ramai. Kenapa harus ditempat ramai ya? Mengingat sang wanita ini tidak menyukai tempat yang agak sepi meskipun tempat tersebut merupakan tempat umum yang bisa diakses dengan mudah oleh orang banyak.

Singkat cerita, bertemulah kedua insan ini dan sibuk dengan obrolan ringan dan cukup menarik. Selama obrolan tersebut, Herman tak berhenti menatap mata sang wanita yang sangat dikagumi. Rupawan rona mukanya serta lengkung bentuk alisnya terlihat sangat sempurna, hampir setiap inchi wajah sang wanita diperhatikan detail seakan sedang dilukis oleh Herman melalui pupil matanya. Tanpa terasa pertemuan tersebut harus mereka sudahi karena senja telah menyapa.

Pertemuan perdana sangat begitu berkesan bagi Herman, namun tidak bagi sang wanita. Disinilah konflik mulai berawal, pasca pertemuan tersebut Herman meningkatkan penetrasinya dalam memberikan perhatian hingga klimaksnya pun terjadi.

Sang wanita, tanpa tedeng aling-aling berujar jika dirinya saat ini hanya ingin berteman tidak untuk menjalin suatu hubungan percintaan mengingat masa perkenalan mereka belum terlalu lama dan sang wanita belum bisa melupakan kisah percintaan dirinya dengan kekasih pujaan yang diyakininya kelak akan menjadi suaminya masih membekas dan berkerak sukar untuk dihilangkan.

Herman menceritakan kisahnya dengan semburat untaian air mata yang menetes tanpa rasa malu membasahi pelupuk mata dan pipinya. Meskipun baru mengenal wanita tersebut, namun Herman berkeyakinan dapat mencintainya dengan tulus. “Saya terima semua masa lalunya yang kelam, dan mungkin tidak semua pria mampu melakukan apa yang saya lakukan” Herman sesunggukan mengucap kalimat tersebut dihadapanku dengan suara yang terdengar serak.

Memang berat rasanya disaat kita sudab mencoba menerima masa lalu seseorang serta sudah berusaha mencintai dengan tulus namun harua berakhir dengan penolakan. Hal itupun pernah saya alami beberapa tahun yang lalu, namun jangan sampai peristiwa ini malah membuat kita hanyut dalam kepedihan dan kesedihan. Cinta memang butuh waktu namun bukan kamu, jika suatu hari ada pria atau wanita yang sudah coba menerima masa lalumu dengan legowo dan dengan tulus ikhlas mencintai dan memberi perhatian jangan pernah kamu sia-siakan. Bisa jadi dia adalah seorang malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menghapus luka dihatimu.

Iklan